Dari postingan temen mengenai bahayanya makanan yang diduga dicampur dengan plastik agar tetap “crispy”, ternyata penjelasan pun berkembang menjadi lebih rumit dan lebih panjang. Kok bisa? ya bisalah, sebab yang membahas hal tersebut bukan hanya orang-orang biasa, tetapi orang-orang yang telah berkecimpung dalam dunia pendidikan (meskipun kini sedang meraih pendidikan pasca dan doktor), tetapi spesialisasi mereka semakin menambah wawasan keilmuan.

Meskipun secara pribadi saya kurang paham dengan polimer and monomer… but I think, it is not far from wood polimer (maklum di fakultas kehutanan cuman ada polimer kayu, weekeke).  Tetapi yang namanya kimia pasti gak jaug-jauh juga, sehingga lumayan lah masih bisa mengerti sedikit demi sedikt.

Terlepas dari email berantai mengenai makanan crispy yang ternyata dicampur dengan plastik (hoax) yang “katanya” sudah dibuktikan oleh sundaytimes dengan melibatkan beberapa scientist untuk membuktikan kebenaran apakah plastik menambah kerenyahan dari suatu produk frying. Kenyataannya yang ada adalah sebagian pedagang di Indonesia teryata masih menggunakan minyak goreng yang di campur dengan plastik (pengalaman pribadi soale). Yahhh… kalo mau disambung-sambung dengan penjelasan proses pemusnahan plastik yang disebut pyrolisis dengan ada tidaknya oksigen, maka akan dihasilkan oil yang mirip petroleum, karena proses ini akan memecah polimer plastik menjadi monomer kembali (kembali ke bentuk awal (minyak). Hal ini bisa diarti kan pedagang bukan ingin bukan makanan tetep crispy, tapi untuk menghemat oil. Wew….bisa juga ya, abis kan plastik bisa diubah jadi oil tuh.

Hal terpenting yang kita bisa ambil hikmahnya yakni, plastik itu ternyata berbahaya lho karena bersifat karsinogen (penjelasan sudah banyak di intenet maupun media lainnya). Hingga pemberian saran tentang pembuatan makanan agar tetap cryspy pun sudah disampaikan. Secara eksplisit pun, seorang teman menjelaskan bagaimana proses sebuah makanan agar tetep cryspy. Katanya sih “crispiness” didapatkan dari reaksi  kimia antara starch (pati/karbohidrat) dan protein yang ada pada makanan berbasis tepung. Semakin bagus gelatinisasinya maka semakin cripsy, Nahhh, kalo dasarnya sudah tahu begini, kan tinggal aplikasi saja tuh.

Seorang teman pun teringat akan kuliah umum Dr. Ingo Bueren yang memaparkan “there’z no such as biodegradable plastics” dengan alasan kenapa harus membuang energi untuk menghancurkan plastik jika bisa diubah menjadi oil??. Just keep the plastic and u’ll gonna rich of oil!. Berdasarkan penelusuran “MBAH GOOGLE”, ide ini muncul dari pemikiran ”plastikkan dari minyak, pasti bisa diolah kembali menjadi minyak”, teknologi pun akhirnya dikembangkan oleh Akinori Ito dan berhasil mengaplikasikannya untuk skala rumah tangga.

Sampah plastik yang dapat diolah menjadi minyak sering disebut dengan 3P yang merupakan singkatan dari PE(Polyethylene), PP (polypropylene), dan PS (polystyrene). Example: Polypropylene : plastik snack, tupperware, casing CD, Capbotol dll. Polyethylene : plastik “kresek”, botol minyak goreng, sampo,dll. Polystyrene : steorofoam, cup mie, tempat bento, dll.

Adapun kerja dari teknologi yang dikembangkan ternyata cukup sederhana. Pertama, sampah plastik dibersihkan dan dipotong menjadi ukuran kecil. Kemudian, dipanaskan pada suhu 450 ºC. Pada suhu ini, plastik akan meleleh dan kemudian menjadi gas. Gas yang terbentuk dipisahkan dan didinginkan. Dari proses ini akan menghasilkan tetesan minyak. Proses ini hanya memakan waktu 1 jam, dan prosentase minyak yang dihasilkan mencapai 70-90% (dari 500 gr plastik, mampu menghasilkan 350-450 gr minyak). Minyak yang dihasilkan apabila didestilasi (disuling) akan menghasilkan minyak tanah, bensin, dan naphtha.

Apakah permasalahan lalu kelar? ternyata tidak, sebab sekitar 3% plastik di dunia berakhir sebagai sampah yang terapung-apung di permukaan air, termasuk di laut yang menyebabkan kematian banyak ikan paus dan penyu karena sampah plastik tersangkut di pencernaan mereka. Hanya 1% saja kantung plastik bekas yang dapat didaur ulang, terutama karena sulitnya memilah berbagai jenis plastik yang digunakan dan tak sebandingnya biaya recycle dengan harga jual produk recycle, sehingga hampir semua kantung plastik tinggal menjadi sampah.

Beberapa fakta tentang sampah plastik:

* Diperkirakan 6.4 juta ton sampah masuk ke laut setiap tahunnya di seluruh dunia (disadur dari data National Academy of Sciences)
* Perkiraan lainnya juga mengatakan sebanyak 8 juta potong sampah masuk ke laut setiap harinya.
* Lebih dari 80% sampah plastik di seluruh dunia langsung dibuang ke tempat sampah yang akhirnya ke laut tanpa di daur ulang
* 90% dari seluruh sampah di laut adalah plastik
* Lebih dari 1 juta binatang laut mati akibat plastik setiap tahunnya
* Setiap tahun rata-rata orang menghabiskan 700 kantong plastik
* Supermarket di seluruh dunia memberikan lebih dari 17 milyar kantong plastik setiap tahunnya.
* Setiap tahun diperlukan 12 juta barel minyak serta 14 juta pohon untuk membuat semua plastik
* Sampah plastik terbanyak adalah botol dan pembungkus plastik sebanyak 56% dimana 3/4 berasal dari perumahan
* Orang Amerika menggunakan 2.5 juta botol plastik per jam!

Lalu apa dunk solusinya??? menurut pribadi saya, semuanya hars berjalan seimbang, tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Memang telah dibuktikan jika plastik bisa diubah menjadi minyak, namun berapa besar biaya dan teknologi yang yang digunakan?? apakah sudah siap?? Perlu sebuah kombinasi yang sinergi antara solusi yang diberikan. Jika sebuah negara sudah dinyatakan siap dala artian memiliki teknologi dan biaya, so mengapa tidak??? tetapi sebuah negara yang tidak siap, apakah mau dipaksakan?? tentu tidak bukan.

Jadi teringat kuliah umum bersama profesor dari Jepang (lupa namanya, mungkin temen2 PSU dari Agro-Industry ada yang ingat), dia memberikan penjelasan tentang penelitiannya yang berhasil menemukan bakteri yang mampu mendegradasi plastik. Saya pikir ini merupakan salah satu alternatif lainnya yang dapat digunakan untuk mengurangi dampak bahayanya plastik bagi lingkungan. Tentu saja jika teknologi ini disinergikan dengan pengolahan plastik menjadi minyak, tentu dampak plastik bagi lingkungan dapat diminimalisir.

Sumber:
1. PlasticWaste Management Institute Japan(www.pwmi.or.jp)
2. Blest Corp.(www.blest.co.jp)
3. http://akuinginhijau.wordpress.com/2007/05/29/kurangi-sampah-plastik-yuk/

Wassalamualaikum,
Akbar
PSU – Hat yai