<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Angsana New”; panose-1:2 2 6 3 5 4 5 2 3 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:16777219 0 0 0 65537 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-font-family:”Angsana New”; mso-bidi-language:AR-SA;} p {mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0cm; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-font-family:”Angsana New”; mso-bidi-language:AR-SA;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}
Substitusi Fossil Fuel dengan Bioenergi, Ringankan Beban Negara
Oleh : Akbar Ciptanto, S. Hut
Hingga saat ini, pemerintah dan masyarakat seolah-olah dibutakan dengan penggunaan sumber energi yang berbahan dasar fosil yang lebih dikenal dengan Bahan Bakar Minyak (BBM). Padahal masih banyak sumber energi lainnya yang dapat difungsikan sebagai pengganti atau pencampur BBM tersebut.
Entah kelebihan apa yang dimiliki bahan bakar fosil yang tak dapat diperbarui itu hingga mengikat masyarakat sedemikian eratnya sehingga terus mencari dan memburu kendati harganya selalu melambung tinggi. Ditambah pernyataan yang dikeluarkan pemerhati lingkungan dan ilmuwan yang menyebut bahan bakar fosil itu dinyatakan tidak ramah lingkungan, tetapi tak juga memengaruhi kondisi pengejaran pencarian bahan bakar itu.
Ironisnya, BBM ini telah diketahui sebagai pemicu polusi udara nomor satu di dunia. Kendaraan bermotor yang memakai BBM ini diketahui menghasilkan zat beracun seperti, karbon dioksida (CO2), karbon monoksida (CO), HC, NOX, SPM, dan debu. Kesemuanya dapat menyebabkan gangguan kerugian bagi manusia terutama untuk, pernapasan, kanker, hingga kemandulan.
Tak bisa dipungkiri, sudah saatnya pemerintah memberi perhatian khusus untuk mengembangkan sumber energi alternatif yang ramah lingkungan untuk mengatasi persoalan itu. Salah satu jalan keluar yang bisa ditempuh yakni dengan melakukan pendekatan yang terintegrasi untuk mencari sumber energi alternatif dengan memanfaatkan sumber daya energi lokal. Tujuannya selain untuk mencari sumber energi pengganti maupun pencampur, juga sebagai langkah menumbuhkan kemandirian dan peningkatan standar hidup serta kesejahteraan masyarakat.
Apalagi dengan berlakunya Protokol Kyoto, Februari 2006 lalu, yang menitikberatkan pada pereduksian emisi gas rumah kaca ke atmosfer, memberi angin segar bagi pengembangan teknologi dan penggunaan energi yang ramah lingkungan. Pencarian energi alternatif diharapkan dapat mengurangi penggunaan BBM yang saat ini kebutuhannya di Indonesia mencapai 215 juta liter per hari. Sedangkan kemampuan produksi dalam negeri hanya sekitar 178 juta liter per hari. Sehingga kekurangannya sekitar 40 juta liter per hari harus diimpor.
Badan Pusat Statistik menyebutkan, semester I tahun 2006, Indonesia mengimpor minyak senilai US$ 28,37 miliar. Nilai tersebut lebih besar dari periode yang sama dari tahun sebelumnya, yang mencapai US$ 20,96 miliar.
Impor BBM hingga kini tampaknya belum dapat diatasi, karena kebutuhan energi dalam negeri masih bertumpu pada minyak bumi lebih dari 50 persen. Padahal, Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan sumber energi dari fosil seperti, gas alam, batu bara, dan minyak bumi. Tak hanya itu, Indonsia juga kaya akan energi terbarukan di antaranya panas bumi, biomassa, tenaga hidro, dan panas matahari.
Bioteknologi sendiri mulai berkembang pada tahun 1970-an, dimulai dengan pemanfaatan untuk industri farmasi. Teknologi DNA rekombinan yang dikembangkan, digunakan untuk memproduksi protein rekombinan yang sangat penting untuk kedokteran seperti insulin, hormon pertumbuhan, dll. Setelah melewati fase awal pembuatan protein rekombinan, bioindustri farmasi berkembang ke arah pembuatan antibodi dari yang poliklonal sampai monoklonal dengan teknologi yang diawali dari hibridoma sampai rekayasa antibodi. Indonesia baru mengembangkan bioteknologi pada tahun 1980-an, tak berpaut lama dari dimulainya revolusi bioteknologi itu sendiri. Sektor aplikasi yang mendapat perhatian besar adalah pertanian.
DUA PRODUK BIOENERGI
Kondisi harga BBM yang cenderung terus naik, membuat berbagai jenis energi terbarukan mulai kompetitif terhadap bahan bakar bersubsidi. Dua sumber energi yang kini mulai dikembangkan yakni Biodiesel dan Bioetanol yang dapat menjadi sumber energi alternatif pengganti maupun pencampur sumber energi berbasis fosil.
Biodiesel digunakan sebagai pencampur solar. Sumber energi alternatif ini berasal dari Kelapa Sawit dan Tanaman Jarak Pagar yang kini mulai dikembangkan di Indonesia dan Kaltim. Bahkan produknya juga sudah dikenalkan ke masyarakat luas. Sementara ini, Biodiesel digunakan dengan mencampur solar dengan Biodiesel dengan perbandingan 80 persen : 20 persen.
Konsumsi solar diketahui sebesar 460 ribu barel atau 73.140.000 liter per hari. Tingginya angka penggunaan solar sebenarnya tidak harus ditutup melalui impor, tetapi dapat diatasi dengan pemanfaatan sumber energi alternatif yang dapat disubstitusikan sebagai pengganti solar.
Sedangkan sumber energi lainnya yang juga tengah dikembangkan yakni, Bioetanol. Energi alternatif ini digunakan sebagai pencampur bensin. Bersumber dari bahan baku yang mengandung karbohidrat seperti, tebu, nira, sorgum, ubi kayu (singkong), garut, ubi jalar, sagu, jagung, jerami, bonggol jagung, kayu, dan tumbuhan yang mengandung pati lainnya. Produknya pun telah dikenalkan ke masyarakat luas sebagai Gasohol, yakni campuran antara bensin dengan Bioetanol dengan perbandingan campuran 90 persen : 10 persen. Kini kedua produk tersebut tengah dikembangkan untuk meningkatkan persentase pencampuran.
Pencampuran Bioetanol dan bensin dengan komposisi itu juga diakui berdampak positif bagi lingkungan. Uji coba yang dilakukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Serpong, Banten, menunjukkan, mobil yang memakai bahan bakar gasohol menghasilkan emisi karbon (CO dan CO2), sulfur dioksida (SO2) lebih rendah dibanding bensin.
Keuntungan lain dari Bioetanol adalah nilai oktannya lebih tinggi dari bensin sehingga dapat menggantikan fungsi bahan aditif, seperti metil tertiary butyl ether dan tetra ethyl lead. Kedua aditif tersebut telah dipilih menggantikan timbal pada bensin.
Bioetanol merupakan salah satu bahan bakar alternatif yang biaya produksinya sama dan bahkan cenderung lebih murah jika dibandingkan dengan bensin tanpa subsidi. Rendahnya biaya produksi disebabkan proses produksi yang relatif sederhana dan murah, ditambah bahan baku kedua sumber energi ini berasal dari limbah pertanian yang tidak bernilai ekonomis dan hasil pertanian budidaya yang dapat diambil dengan mudah.
Untuk memproduksi Bioetanol berkapasitas 60 kiloliter per hari, dibutuhkan biaya pokok sebesar Rp 2.400,-. Sementara harga minyak mentah sudah mendekati 60 dollar AS per barrel, maka dibutuhkan biaya pokok produksi BBM sebesar Rp 4.000,- per liter.
Peluang pengembangan Bioetanol saat ini sangat besar, mengingat konsumsi etanol dunia mencapai 63 persen untuk digunakan sebagai bahan bakar, terutama di Brasil, Amerika Utara, Kanada, Uni Eropa, dan Australia. Sementara untuk pasar Asia yakni Jepang dan Korea Selatan sebagai konsumsi minuman keras.
Berdasarkan data Departemen Perindustrian dan Perdagangan tahun 2002 lalu diketahui, produksi bioetanol di Indonesia mencapai 180 juta liter etanol berkadar 95-97 persen. Etanol itu dihasilkan enam produsen terbesar etanol seperti, Indo Acidatama (46,2 ribu kl), Indo Lampung Distellery (39,6 ribu kl), Molindo Raya Industrial (39,6 ribu kl), Aneka Kimia Nusantara (14,85 ribu kl), PG Rajawali II (10,5 ribu kl), dan Perusahaan Terbatas Perkebunan Nusantara (PTPN) XI (7,2 ribu kl).
Penggunaan Bioetanol sebagai bahan bakar, diakui lebih baik ketimbangan bensin yakni, kualitas mesin tetap terjaga, suara mesin tetap halus, kadar gas buangnya sangat rendah, dan tak perlu merombak struktur desain mesin mobil saat menggunakan gasohol.
Meski demikian, Bioetanol juga memiliki kekurangan seperti, memiliki dua pertiga energi bensin, serta proses penguapan bioetanol dari cair ke gas tidak secepat bensin. Karena itu penggunaan bioetanol murni pada kendaraan akan menimbulkan masalah. Tetapi masalah dapat diatasi dengan mengubah desain mesin dan reformulasi bahan bakar.
Melihat peluang yang sangat besar itu, sudah selayaknya Indonesia dan Kaltim yang memiliki kekayaan sumber daya alam dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi alternatif itu. Selain itu, perlu perhatian serius dari Pemerintah untuk membantu usaha pengembangan penelitian tentang proses pembuatan Biodiesel dan Bioetanol. Sehingga masyarakat tidak lagi bergantung pada bahan bakar fosil yang hanya dapat dimanfaatkan dalam batas waktu tertentu saja. ***

1 comment
Comments feed for this article
Oktober 14, 2008 pada 7:25 pm
Danan E C, ST
Saya Danan, 29 Th,
saya seorang pengusaha muda (UKM)
Jauh sebelum orang meributkan efisiensi energi dan energi alternatif, kami sudah melakukan penelitian selama 6 Tahun terakhir tentang tungku sekam, dan baru kami jual secara masal setelah saya memutuskan untuk usaha sendiri 2 tahun yang lalu.
modal awal kami 1,5 jt waktu itu, Alhamdulillah setelah mulai lancar kami berhasil menjual 23 unit tersebar dari Banyuwangi hingga Tegal.
hari ini saya membaca berita dari liputan enam (14 oktober 2008) tentang kayu sebagai bahan bakar alternatif ungulan, saya antara antara mendukung dan menolak pendapat ini. Mendukung karena mungkin menciptakan lapangan kerja baru, menolak karena sebetulnya ada yang lain selain kayu yang juga ungulan yang mungkin tidk merusak ekosistem alam akibat penebangan kayu yang berlebihan. bahan bakar dari produk yang kami buat adalah dari sekam, serbuk kayu, tempurung kelapa, ampas tebu, serabut kelapa, jerami kering bahkan daun kering. coba dibandingkan, lebih baik mana dibandingkan dengan kayu.
saya pikir didepan mata kita sudah tersedia sumber energi terbaharui dengan sangat murah, cuman mungkin orang indonesia saja yang kurang mau tahu. di desa tempat saya tinggal para penduduk mulai kami pengaruhi sedikit demi sedikit untuk meninggalkan elpiji dan beralih ke tungku sekam rumah tangga buatan kami. pertimbangannya simple, karena faktor kebisaan dan perasaan kalo elpiji naik lagi gimana, sedangkan sekam, jerami dam serbuk kayu melimpah didesa kami. kalo dikota mungkin teknologi ini belum bisa diterima. Yang dikawatirkan selama ini kalo timbul polusi asap dari pembakaran, kami sudah bisa atasi, artinya bebas polusi asap.
cuma, kami hanya sebuah UKM dengan masalah klise.
Mohon Kami diberikan Informasi tentang program
yang berkaitan dengan Tungku sekam yang kami produksi
Bagaimana caranya untuk menjalin kerjasama agar produk kami dapat dinikmati lebih luas oleh semua masyarakat
untuk informasi keseriuasan kami bisa diperoleh dari
http://www.santosorising.com
Kami bersedia memberikan informasi tambahan yang mungkin diperlukan
Terimakasih
Danan Eko Cahyono, ST