<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Angsana New”; panose-1:2 2 6 3 5 4 5 2 3 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:16777219 0 0 0 65537 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-font-family:”Angsana New”; mso-ansi-language:IN; mso-bidi-language:AR-SA;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:2073769763; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1424243770 1206450154 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 {mso-level-tab-stop:42.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:42.0pt; text-indent:-24.0pt;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Pola Belajar Vs Kualitas Pendidikan

Selama ini masyarakat selalu mengambinghitamkan kualitas pendidikan sebagai biang keladi ketidaklulusan ratusan pelajar di Indonesia dan di Kaltim pada khususnya. Sebagian orang menganggap sistem pendidikan sekarang ini belum menjadi manifestasi untuk mendidik pelajar lebih mandiri. Tetapi pernahkah masyarakat mencoba menganalisa mengapa kualitas pendidikan di Kaltim terbilang cukup menyedihkan dibanding Pulau Jawa bahkan di dunia.

Masyarakat pada umumnya menyerahkan tanggungjawab pendidikan pada lembaga pendidikan formal (SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi) dan lembaga pendidikan non formal (kursus, lembaga pendidikan keterampilan, dan lain-lain). Pihak yang dianggap paling berwenang untuk meningkatkan kualitas pendidikan ialah tenaga pendidik. Implikasinya tentu saja pada akhir studi anak didik yakni nilai ulangan akhir yang menjadi patokan. Jika angka persentase anak tidak lulus lebih besar dibanding angka kelulusan, maka kualitas pendidikan lah yang otomatis menjadi kambing hitam. Sebagian orang berkata, mencari kambing hitam lebih mudah daripada mencari solusi pemecahannya. Ironisnya, hal inilah yang sering digunakan sebagian orang di badan pemerintahan untuk bersilat lidah mencari pembenaran akan kegagalan yang terjadi.

Kini paradigma tersebut harus diubah, sebab peningkatan kualitas pendidikan seharusnya tidak hanya bertumpu pada lembaga pendidikan. Tetapi telah mengacu pada kepedulian keluarga (orang tua) untuk mendorong anak mereka untuk lebih hiperaktif mempelajari ilmu yang tidak mereka peroleh di sekolah. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan yakni belajar melalui internet. Meski hal ini membutuhkan pengorbanan waktu dan dana yang tidak sedikit, tetapi demi peningkatan wawasan dan ilmu anak didik, maka secara tak langsung kualitas pendidikan akan meningkat. Hal ini akan memperjelas, jika sistem pendidikan hanya faktor pendorong bukan faktor penentu kualitas pendidikan. Tetapi sudahkah hal ini berjalan di Kaltim ?

Samarinda dan Balikpapan dapat menjadi salah satu contoh kota yang sudah cukup maju teknologinya dengan menjamurnya warung internet (warnet). Tetapi pernahkah kita menengok kondisi warnet yang ada di dua kota itu. Jika kita mau meluangkan waktu sedikit saja, maka dengan mudah kondisi yang terlihat adalah, sangat sedikit pelajar yang datang. Jika pun datang, sangat sedikit dijumpai aktivitas mereka di warnet tersebut yang mendukung pendidikan mereka. Malah dengan mudah kita menemukan pelajar yang sedang bermain bersama teman-temannya atau hanya sebatas chating di komputer yang mereka sewa. Jika kita menemukan pelajar yang sedang mencari data pelajaran, itupun hanya sebatas mengerjakan tugas yang diminta guru atau dosen bahkan ada yang mencari data pendukung penyusunan skripsi atau laporan. Sangat sulit mencari pelajar yang benar-benar datang ke warnet atas kemauan pribadi untuk belajar dan menambah wawasan keilmuan mereka. Ironisnya, ada sebagian pelajar maupun mahasiswa yang buta tuli akan internet.

Jika dibandingkan dengan pelajar atau mahasiswa di Pulau Jawa, maka pemandangan tersebut sangat bertolak belakang. Kini pelajar dan mahasiswa di Jawa menganggap internet adalah bagian hidup mereka. Bahkan untuk mencari bangku kosong di warnet yang dapat mengakses data lebih cepat sangat susah. Seakan mereka berlomba-lomba dengan waktu untuk mencari ilmu dan wawasan yang tak boleh mereka lewatkan sedetikpun. Kelebihan lain yang dimiliki internet ialah, wahana ini banyak memberikan informasi mengenai ilmu dan teknologi terkini. Sehingga informasi apapun dapat dengan mudah diperoleh.

Pola belajar anak didiklah yang seharusnya kini menjadi perhatian serius tenaga pendidik dan orangtua. Bagaimanapun baiknya tenaga pendidik jika tidak ditopang dengan pola belajar yang baik, maka ilmu yang diberikan akan sia-sia dan tidak berguna sama sekali. Memang perlu sebuah formulasi pola belajar yang tepat bagi anak didik. Bagaimanapun semuanya kembali pada kemampuan masing-masing daerah untuk mewujudkan keinginan tersebut. Karena patut disadari, tidak semua daerah mampu mengakses internet, apalagi kawasan pedalaman dan perbatasan yang sarana dan prasarananya sangat terbatas.

Meski memiliki banyak kelebihan untuk menambah wawasan dan ilmu, tetapi keberadaan internet juga wajib diwaspadai. Karena informasi yang diberikan bukan hanya mencakup informasi yang positif, tetapi juga memberikan ribuan situs negatif yang dapat merusak anak didik. Karena itu, kebutuhan akan sebuah sistem yang terformulasikan dengan baik bagi anak didik sangat dibutuhkan. Bukan hanya dorongan untuk belajar mandiri melalui internet, tetapi juga butuh pengawasan yang super ketat agar anak didik tidak salah jalan. ***

Penulis :

Akbar Ciptanto, S.Hut.

1. Alumni Jurusan Teknologi Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan, Universitas Mulawarman, Samarinda, Kaltim.

2. Mahasiswa Program Double Degree Pasca Sarjana, Fakultas Pertanian, Program Studi Ilmu Tanaman, Kekhususan Bioteknologi Agroindustri, Universitas Brawijaya, Malang, Jatim.