Sampah merupakan momok yang cukup ditakuti bagi daerah perkotaan yang sedang berkembang. Berdasarkan sumber dari Kantor Kebersihan dan Pertamanan Samarinda, setiap harinya penduduk Samarinda sebanyak 579.933 jiwa mampu memproduksi sampah sekitar 1.400 meter kubik dan sekitar 40 persennya merupakan sampah plastik (560 meter kubik). Tak hanya menggunung di TPA (Tempat Pembuangan Akhir), ternyata masih saja dengan mudah ditemukan tumpukan sampah di pinggir jalan yang tidak terangkut petugas mencapai 140,6 meter kubik setiap harinya. Sementara itu, sampah yang terangkut oleh petugas kebersihan hanya dikirim ke tiga Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah kota Samarinda yang hingga kini masih menggunakan pola open dumping (menghamparkan sampah di lahan terbuka) yang sudah layak untuk ditinggalkan.

Dari persentase jumlah sampah yang diproduksi penduduk Samarinda, sekitar 40 persen berupa sampah plastik kini sudah dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat Samarinda untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-harinya. Sementara itu, sebagian besar sampah berupa sampah organik, ternyata masih belum dimaksimalkan pemanfaatannya dan hanya dianggap sebagai bahan bekas yang tidak bisa digunakan lagi, padahal sampah organik tersebut masih bisa dimanfaatkan sebagai sumber tenaga listrik seperti yang telah dilakukan cina dan jepang.

Pemanfaatan sampah sebagai sumber alternatif tenaga listrik di Samarinda dirasakan dapat membantu mengurangi kekurangan pasokan listrik di Samarinda. Kelebihan lainnya adalah mudahnya mencari sampah organik, karena tidak perlu dicari lagi karena telah diproduksi secara missal oleh masyarakat. Ditambah cadangan energi fosil di Indonesia yang semakin menipis. Menurut Sumber Direktorat Jendral Listrik dan Pemanfaatan Energi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (2003) energi minyak akan habis untuk masa 10 tahun mendatang, energi gas akan habis untuk 30 tahun mendatang dan energi batubara akan habis untuk 88 tahun mendatang. Apalagi kita ketahui bersama bahwa pembangkit listrik yang beroperasi di Samarinda masih menggunakan bahan bakar minyak atau sumber energi fosil lainnya.

Hal ini semakin diperparah dengan tingkat konsumsi masyarakat akan energi listrik yang terus meningkat setiap tahunnya dan tidak dibarengi dengan penyediaan energi listrik yang memadai. Lalu upaya apa yang dilakukan PLN, salah satunya dengan menghimbau masyarakat untuk melakukan penghematan listrik pada pukul 17.00 – 22.00 Wita yang terbukti tidak efektif. Oleh karena itu perlu energi alternatif untuk mengatasi defisit energi listrik ini.

Menurut Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), penerapan teknologi untuk memanfaatkan biomass dari sampah perkotaan untuk mengatasi defisit energi listrikdapat dilakukan. Apalagi diketahui besarnya potensi sumber listrik dari biomass bisa mencapai 50 ribu megawatt. Dari sendi kendala pun dianggap sudah kurang, sebab sudah muncul banyak teknologi pembangkit listrik yang mampu mengubah biomass menjadi sumber listrik. Kapasitas pembangkit listrik biomass juga sudah banyak yang mencapai di atas satu megawatt sehingga bisa menjadi sumber listrik bagi pabrik dan ribuan rumah. Pemanfaatan energi biomass sebagai sumber listrik pun dianggap jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan pemanfaatan bahan bakar fosil, seperti solar dan batu bara. Contoh kasus adalah produksi sampah di Jakarta mencapai rata-rata 20.000 ton per hari ternyata dapat memproduksi energi listrik berdaya 100 megawatt dan memberikan pendapatan rata-rata Rp 320 miliar per tahun. (www.energi.lipi.go.id edisi 6 Desember 2004).

Proses pengubahan sampah organik perkotaan pada dasarnya ialah mengubah biomass (senyawa organik) menjadi energi melalui sejumlah proses pengolahan, baik dengan maupun tanpa oksigen yang bertemperatur tinggi. Energi yang dihasilkan berbentuk energi listrik, gas, energi panas dan dingin yang banyak dibutuhkan industri, seperti cool storage, gedung perkantoran, dan hotel.

Patut diakui, daerah kita memiliki banyak sekali cadangan energi alam yang dapat dimanfaatkan. Tetapi sebanyak apapun energi yang tersedia di alam tanpa dikerjakan dengan perencanaan yang matang maka akan berakibat fatal. Jika keserakahan ekonomi yang menjadi landasan dalam mengeksploitasi sumber daya alam, maka tak mengherankan jika negara kita sekarang banyak mengekspor migas, batubara, dll. Sebaiknya pemerintah cukup selektif terhadap perizinan pertambangan dan memikirkan bagaimana SDA yang tersedia dapat pula dimanfaatkan untuk generasi selanjutnya. Ironisnya, saat ini pengusaha gencar mengekspor batubara demi memenuhi pundi-pundi keuangan mereka, hal sebaliknya dilakukan negara lain pengimpor batubara yang menampung batubara dari indonesia untuk cadangan sumber energi mereka dimansa mendatang

Riwayat penulis:

Mahasiswa Pasca Sarjana Program Double Degree, Jurusan Bioteknologi Agro-Industry, Universitas Brawijaya,Malang dan Faculty of Agro-Industry, Prince of Songkla University, Thailand.