st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Angsana New”; panose-1:2 2 6 3 5 4 5 2 3 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:16777219 0 0 0 65537 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; mso-bidi-font-size:14.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-font-family:”Angsana New”;} a:link, span.MsoHyperlink {color:blue; text-decoration:underline; text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed {color:purple; text-decoration:underline; text-underline:single;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Mengubah Kaum Tani Pedesaan Menjadi Pengusaha Tani

Oleh: Akbar Ciptanto, S. Hut

Sejak lama Bangsa Indonesia di kenal sebagai negara agraria dengan luas areal pertanian yang cukup luas. Begitu pula beberapa kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur tidak luput menjadikan sektor pertanian sebagai sektor andalan kedua disamping minyak dan gas. Kita mungkin boleh berbangga karena pada era 80-an, bangsa kita telah merasakan yang namanya swasembada pangan. Tetapi kini, kebanggan itu seakan luntur dengan pemberitaan media massa yang mengatakan negara ini harus mengekspor beberapa hasil sektor pertanian seperti beras, kedelai, dan lain sebagainya dari negara tetangga untuk meminimalisir gejolak masyarakat akibat kebutuhan yang begitu besar tetapi tidak dapat dipenuhi oleh produksi dalam negeri. Ironisnya, pemerintah dewasa ini tengah gencar-gencarnya melaksanakan program perluasan lahan pertanian dengan iming-iming bantuan dari APBN maupun APBD dalam jumlah yang tidak sedikit, tetapi hasilnya hingga kini pun masih belum terlihat. Hanya beberapa daerah saja yang mampu memproduksi hasil pertanian yang hanya mencukupi kebutuhan daerah setempat.

Alasan yang muncul kepermuakan adalah ketimpangan ekonomi yang sangat besar antara kehidupan petani yang masih terbilang miskin dibandingkan sektor pekerjaan lainnya yang menjanjikan kehidupan yang lebih layak, seperti pertambangan, kehutanan, perikanan, dan lain-lain. Ini lah yang menyebabkan sektor pertanian dianggap sebagai bidang pekerjaan kelas kedua. Bidang pekerjaan yang hanya pantas dikerjakan oleh masyarakat yang memiliki pendidikan yang kurang. Anggapan yang jelas-jelas keliru ini, ternyata masih dianut oleh sebagian besar angkatan kerja muda, yang lebih memilih pekerjaan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) maupun pekerja swasa yang hanya bekerja di kantor di bawah semilir angin Air Conditioner (AC) ketika menyelesaikan pendidikan mereka di perguruan tinggi.

Diberlakukannya otonomi daerah, seharusnya bisa dijadikan landasan untuk memprioritaskan pengembangan sektor pertanian agar menjadi sektor dominan disamping minyak dan gas yang dipastikan akan habis suatu saat. Tinggal bagaimana pemerintah daerah membuat master plan sektor pertanian yang dapat dijadikan panutan puluhan tahun ke depan. Menggunakan tenaga ahli yang benar-benar ahli di sektor pertanian dirasakan sangat bermanfaat untuk mengembangkan potensi daerah menjadi daerah penghasil suatu produk pertanian yang unggul dewasa ini. Sebab kesalahan yang terjadi dewasa ini adalah kecenderungan tenaga pemerintah daerah yang hanya mengejar titel atau gelar pendidikan sebatas untuk mendapatkan jabatan yang lebih tinggi, bukan pada mencari dan menjalankan ilmu yang didapatkan selama pendidikan untuk memperbaiki kondisi sektor pertanian yang ada. Ini lah faktor lain yang turut memperburuk wajah sektor pertanian di Indonesia.

Kini pemerintah sedang gencar-gencarnya memperluas lahan pertanian untuk memproduksi padi. Apakah hal ini telah dipikirkan matang-matang dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani? Kenyataannya adalah, pertanian di sektor padi ternyata tidak memberikan harapan besar bagi petani untuk memperoleh pendapatan yang memadai. Tetapi pemerintah tetap gencar ”memaksa” petani untuk beramai-ramai menanam padi. Pilihan lain pada sektor perkebunan pun dipandang memerlukan waktu yang panjang karena harus mengubah kultur-petani terlebih dahulu. Mendatangkan investor secara besar-besaran pun dirasakan dapat menumbuhkan kapitalisasi perekonomian daerah yang pada akhirnya kembali akan menekan petani pedesaan kita dan semakin besarnya migran buruh perkebunan yang akan melemparkan tenaga kerja lokal.

Satu-satunya jalan yang dianggap dapat membantu mengatasi pengembangan sektor pertanian adalah melihat kembali potensi pertanian yang sangat besar di daerah yang bersangkutan. Jangan pernah memaksanakan kaum petani pedesaan untuk hanya menghasilkan satu produk pertanian. Meski dari segi jumlah produksi dapat dikatakan meningkat drastis, tetapi tujuan utama mensejahterakan kehidupan kaum petani pedesaan tidak akan terpenuhi dan tetap menjadi buruh di tanah sendiri. Konsep entrepreneurship agro-industry hingga kini masih belum dimiliki kaum petani pedesaan. Selama ini, mereka hanya sebatas memproduksi suatu hasil pertanian hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup, sehingga sangat jarang yang turun di bidang ekonomi. Buntut-buntutnya, para tengkulak hasil pertanian yang lebih menguasai konsep entrepreneurship agro-industry yang merasakan pun manisnya buah hasil produksi petani. Pemerintah darah yang seharusnya dapat membantu mengatasi persoalan ini, pada akhirnya hanya tutup mata dan hanya memberikan pembenaran agar pmerintah tidak dianggap salah di mata publik. Pemerintah daerah seharusnya dapat menjadi tulang punggung konsep entrepreneurship agro-industry untuk menggenjot sektor pertanian di wilayahnya. Dengan konsep ini pula, diharapkan pemerintah daerah dapat mengubah kaum petani pedesaan menjadi penngusaha petani. Apalagi dewasa ini perkembangan situs-situs e-commerce di web-web internetdapat dijadikan sarana promosi dan penawaran hasil produksi pertanian dan juga sebagai sarana peningkatan daya saing globalisasi di sektor perdagangan.

Untuk menjadikan hasil pertanian menjadi sektor unggulan suatu daerah, pelaksanaan konsep entrepreneurship agro-industry juga harus didukung beberapa faktor lainnya seperti, diperlukan kesiapan, kepastian dan kestabilan jumlah produksi hasil pertanian tersebut. Pemerintah daerah pun dituntut untuk dapat menjadi mediator pasar bagi produk pertanian dan negosiator ulung dalam penetapan harga jual dan beli produk tersebut. Di sisi lain, kaum petani pedesaan pun diharapkan dapat menerapkan sistem pertanian modern, dimana konsep sedikit lahan tetapi hasil produksi yang optimal sudah harus dapat diterapkan.

Bagian terpenting dalam pelaksanaan konsep ini adalah memanfaatkan teknologi informasi yang telah berkembang pesat untuk menunjang sektor pertanian. Dalam hal ini, suatu daerah tidak hanya dituntut untuk mengembangkan potensi produk pertanian daerah mereka saja, tetapi juga dapat mengembangkan potensi produk pertanian lainnya yang memiliki nilai jual yang sangat tinggi tetapi baru diproduksi dalam jumlah yang terbatas dan sangat dicari pasar. Informasi mengenai produk-produk pertanian tersebut sangat banyak dan mudah dicari, tetapi dengan keterbatasan informasi di beberapa daerah, membuat produk pertanian tersebut kurang menjadi minat petani. Dalam hal ini, informasi dirasakan merupakan faktor lain yang sangat mendukung konsep entrepreneurship agro-industry. Padahal dengan memanfaatkan informasi ini, maka pemerintah daerah dapat membantu kaum petani pedesaan tidak hanya menjadi buruh tetapi pengusaha di lahan sendiri. ***

Riwayat penulis:

Mahasiswa Pasca Sarjana Program Double Degree, Jurusan Bioteknologi Agro-Industry, Universitas Brawijaya, Malang dan Prince of Songkla University, Thailand.

Email : ak_cipta@yahoo.com