<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Angsana New”; panose-1:2 2 6 3 5 4 5 2 3 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:16777219 0 0 0 65537 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; mso-bidi-font-size:14.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-font-family:”Angsana New”;} a:link, span.MsoHyperlink {color:blue; text-decoration:underline; text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed {color:purple; text-decoration:underline; text-underline:single;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Angsana New”; panose-1:2 2 6 3 5 4 5 2 3 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:16777219 0 0 0 65537 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; mso-bidi-font-size:14.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-font-family:”Angsana New”;} a:link, span.MsoHyperlink {color:blue; text-decoration:underline; text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed {color:purple; text-decoration:underline; text-underline:single;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Demonstrasi Santun Ala Thailand

Mirip Pesta Rakyat, Disediakan Fasilitas Lengkap

*Oleh: Akbar Ciptanto, S. Hut

DEMONSTRASI, sebuah kata yang yang cukup akrab di telinga masyarakat Indonesia sejak kejatuhan masa Orde Baru tahun 1998. Sejak saat itu lah aksi ini sering kali terlihat menghiasi semua media elektronik maupun media massa. Sehingga muncul sebuah anekdot, sebuah berita tak terasa lengkap tanpa berita demonstasi, apalagi demonstrasi tersebut berujung kerusuhan.

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) 1997, demonstrasi adalah pernyataan protes yang dikemukakan secara massal, baik protes itu ditujukan kepada seseorang maupun kelompok atau pemerintahan. Sementara Ensiklopedi Britanic online memberikan definisi demonstrasi dengan a public display of group feelings toward a person or cause (pernyataan sikap yang dikemukakan di muka umum terhadap seseorang atau akibat) (tahun 2008).

Fenomena terakhir melihat aksi demonstrasi yang dilakukan tak hanya oleh mahasiswa tetapi juga masyarakat Indonesia atau Kaltim Pada khususnya. Sedemikian menariknya hal ini untuk dicermati karena aksi ini dianggap sebagai satu cara bagi orang lemah yang terbungkam untuk menyuarakan inspirasi kepada pihak yang kuat. Seperti hilang kendali dengan dalih demokrasi, kini setiap aksi demonstrasi pasti diembel-embeli dengan tindakan anarkis, bentrok dengan aparat, pembakaran ban, pemblokiran jalan, hingga penyiksaan diri sendiri (mogok makan).

Setelah 10 tahun demokrasi berjalan di Indonesia, kini aksi demonstrasi dianggap tak lagi dekat dengan masyarakat bahkan tak jarang masyarakat mengecam atas aksi demonstrasi yang dilakukan, meski hanya sebagian saja. Lalu apa yang salah dengan aksi demonstrasi yang dilakukan, ataukah ada yang salah dengan demokrasi yang sedang berjalan?.

Ada baiknya kita belajar dari negara tetangga Thailand. Banyak cara berdemonstrasi yang santun tetapi tetap sesuai target yang ingin mereka. Di negeri gajah putih ini lebih dari sebulan melakukan aksi penentangan terhadap pemerintahan Khun Samak (Perdana Menteri Thailand), melalui motion of no confidence (mosi tidak percaya). Tetapi sejak aksi itu dilakukan, belum pernah terlihat aksi anarkis, tak terlihat aksi bentrok dengan aparat, tak terlihat aksi lempar batu, bakar ban, blokir jalan, bahkan tak terlihat penyiksaan terhadap diri sendiri. Justru yang terlihat adalah kesejahteraan bagi pendemo. Kok bisa?, bagaimana tidak, saat aksi massa PAD menggelar aksi demonstrasi di Ratchadamnoen, Bangkok, demonstrasi ini lebih terlihat seperti pesta rakyat seperti kebanyakan terlihat di Indonesia.

Meskipun sempat terjadi episode ­civil disobedience, tetapi hal tersebut tak berlangsung lama dan tak separah seperti di Indonesia yang bisa menyebabkan korban jiwa. Demonstrasi d Thailand ini lebih diarahkan kepada pendidikan dan pembelajaran politik bagi masyarakat, karena itulah aksi massa ini disebut-sebut juga sebagai Rathadamnoen University.

Seperti fenomena demonstrasi pada umumnya, di Thailand pun semua golongan masyarakat berkumpul menjadi satu, tua dan muda, miskin dan kaya, bahkan tak jarang anak-anak dan orang tua turut dibawa serta mengunjungi demonstrasi tersebut. Kok bisa dikatakan mengunjungi?, bagaimana tidak, peserta aksi demonstrasi menyediakan kursi dala jumlah cukup besar, dilengkapi fasilitas LCD projector yang digelar  di banyak tempat yang menyiarkan orasi pendemo di sebuah pentas yang sengaja disiapkan untuk berorasi.

Yang benar-benar membuat terkesiap yakni, aksi ini benar-benar mirip pesta rakyat, dimana terdapat layar tancap dan pasar malam, sehingga sangat wajar dijumpai pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya seperti pakaian dan souvenir di sepanjang jalan menuju lokasi demonstrasi. Bahkan para relawan yang tergabung dalam aksi demonstrasi juga menyediakan makanan gratis yang disediakan oleh dapur umum dengan jumlah stock makanan yang berlimpah berasal dari sumbangan warga dari seluruh penjuru Thailand. Tak hanya makanan, aqua pun boleh diambil secara percuma. Satu lagi fasilitas yang diberikan lokasi aksi demonstrasi yakni tenda medis beserta obat dan dokter, sehingga pendemo maupun masyarakat yang kebetulan lewat dan sakit bisa memeriksakan diri secara gratis.

Hal lainnya yang patut dibanggakan dari warga Thailand adalah sikap kebersihan yang tak diiliki warga Indonesia. Berbeda dengan Indonesia, dimana setiap aksi demonsrasi selalu dibarengi dengan jumlah sampah yang meningkat, maka di Thailand, telah disediakan tempat sampah khusus yang telah diklasifikasikan sesuai jenis sampah yang dibuang relawan aksi ataupun masyarakat yang datang. Tak hanya itu, di lokasi aksi ini pun terdapat larangan yang sangat keras bagi perokok dan peminum (minuman keras/alkohol). Walaupun warga Thailand sangat permisif terhadap minuman keras, tetapi mereka menganggap aksi tersebut harus bersih dari minuman keras yang dapat mengganggu jalannya aksi. ***

Penulis:

Akbar Ciptanto, S. Hut

Mahasiswa Pasca Sarjana Fakultas Biotechnology Agro-Industry, Program Double Degree antara Prince of Songkla University, Thailand, dan Universitas Brawijaya, Malang, Indonesia.

e-mail : ak_cipta@yahoo.com

Mirip Pesta Rakyat, Disediakan Fasilitas Lengkap

*Oleh: Akbar Ciptanto, S. Hut

DEMONSTRASI, sebuah kata yang yang cukup akrab di telinga masyarakat Indonesia sejak kejatuhan masa Orde Baru tahun 1998. Sejak saat itu lah aksi ini sering kali terlihat menghiasi semua media elektronik maupun media massa. Sehingga muncul sebuah anekdot, sebuah berita tak terasa lengkap tanpa berita demonstasi, apalagi demonstrasi tersebut berujung kerusuhan.

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) 1997, demonstrasi adalah pernyataan protes yang dikemukakan secara massal, baik protes itu ditujukan kepada seseorang maupun kelompok atau pemerintahan. Sementara Ensiklopedi Britanic online memberikan definisi demonstrasi dengan a public display of group feelings toward a person or cause (pernyataan sikap yang dikemukakan di muka umum terhadap seseorang atau akibat) (tahun 2008).

Fenomena terakhir melihat aksi demonstrasi yang dilakukan tak hanya oleh mahasiswa tetapi juga masyarakat Indonesia atau Kaltim Pada khususnya. Sedemikian menariknya hal ini untuk dicermati karena aksi ini dianggap sebagai satu cara bagi orang lemah yang terbungkam untuk menyuarakan inspirasi kepada pihak yang kuat. Seperti hilang kendali dengan dalih demokrasi, kini setiap aksi demonstrasi pasti diembel-embeli dengan tindakan anarkis, bentrok dengan aparat, pembakaran ban, pemblokiran jalan, hingga penyiksaan diri sendiri (mogok makan).

Setelah 10 tahun demokrasi berjalan di Indonesia, kini aksi demonstrasi dianggap tak lagi dekat dengan masyarakat bahkan tak jarang masyarakat mengecam atas aksi demonstrasi yang dilakukan, meski hanya sebagian saja. Lalu apa yang salah dengan aksi demonstrasi yang dilakukan, ataukah ada yang salah dengan demokrasi yang sedang berjalan?.

Ada baiknya kita belajar dari negara tetangga Thailand. Banyak cara berdemonstrasi yang santun tetapi tetap sesuai target yang ingin mereka. Di negeri gajah putih ini lebih dari sebulan melakukan aksi penentangan terhadap pemerintahan Khun Samak (Perdana Menteri Thailand), melalui motion of no confidence (mosi tidak percaya). Tetapi sejak aksi itu dilakukan, belum pernah terlihat aksi anarkis, tak terlihat aksi bentrok dengan aparat, tak terlihat aksi lempar batu, bakar ban, blokir jalan, bahkan tak terlihat penyiksaan terhadap diri sendiri. Justru yang terlihat adalah kesejahteraan bagi pendemo. Kok bisa?, bagaimana tidak, saat aksi massa PAD menggelar aksi demonstrasi di Ratchadamnoen, Bangkok, demonstrasi ini lebih terlihat seperti pesta rakyat seperti kebanyakan terlihat di Indonesia.

Meskipun sempat terjadi episode ­civil disobedience, tetapi hal tersebut tak berlangsung lama dan tak separah seperti di Indonesia yang bisa menyebabkan korban jiwa. Demonstrasi d Thailand ini lebih diarahkan kepada pendidikan dan pembelajaran politik bagi masyarakat, karena itulah aksi massa ini disebut-sebut juga sebagai Rathadamnoen University.

Seperti fenomena demonstrasi pada umumnya, di Thailand pun semua golongan masyarakat berkumpul menjadi satu, tua dan muda, miskin dan kaya, bahkan tak jarang anak-anak dan orang tua turut dibawa serta mengunjungi demonstrasi tersebut. Kok bisa dikatakan mengunjungi?, bagaimana tidak, peserta aksi demonstrasi menyediakan kursi dala jumlah cukup besar, dilengkapi fasilitas LCD projector yang digelar  di banyak tempat yang menyiarkan orasi pendemo di sebuah pentas yang sengaja disiapkan untuk berorasi.

Yang benar-benar membuat terkesiap yakni, aksi ini benar-benar mirip pesta rakyat, dimana terdapat layar tancap dan pasar malam, sehingga sangat wajar dijumpai pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya seperti pakaian dan souvenir di sepanjang jalan menuju lokasi demonstrasi. Bahkan para relawan yang tergabung dalam aksi demonstrasi juga menyediakan makanan gratis yang disediakan oleh dapur umum dengan jumlah stock makanan yang berlimpah berasal dari sumbangan warga dari seluruh penjuru Thailand. Tak hanya makanan, aqua pun boleh diambil secara percuma. Satu lagi fasilitas yang diberikan lokasi aksi demonstrasi yakni tenda medis beserta obat dan dokter, sehingga pendemo maupun masyarakat yang kebetulan lewat dan sakit bisa memeriksakan diri secara gratis.

Hal lainnya yang patut dibanggakan dari warga Thailand adalah sikap kebersihan yang tak diiliki warga Indonesia. Berbeda dengan Indonesia, dimana setiap aksi demonsrasi selalu dibarengi dengan jumlah sampah yang meningkat, maka di Thailand, telah disediakan tempat sampah khusus yang telah diklasifikasikan sesuai jenis sampah yang dibuang relawan aksi ataupun masyarakat yang datang. Tak hanya itu, di lokasi aksi ini pun terdapat larangan yang sangat keras bagi perokok dan peminum (minuman keras/alkohol). Walaupun warga Thailand sangat permisif terhadap minuman keras, tetapi mereka menganggap aksi tersebut harus bersih dari minuman keras yang dapat mengganggu jalannya aksi. ***

Penulis:

Akbar Ciptanto, S. Hut

Mahasiswa Pasca Sarjana Fakultas Biotechnology Agro-Industry, Program Double Degree antara Prince of Songkla University, Thailand, dan Universitas Brawijaya, Malang, Indonesia.

e-mail : ak_cipta@yahoo.com